This is just the story about my heart.

You know, it’s normal if sometimes we feel disappointed in someone and that is what i feel these lately.

Having a relation with someone is a happiness thing in piece of your life, and that was what i felt. I dated my ex boyfriend before. I know, may be at the beginning i started my relation with him was not true, and it ended sadly (i thought).

So, this is the story…

We were friend, me and him, let’s call him S. So, the story began when i started studying in campus. 3rd semester was the first introduction between us,  you know we were in the same group of study. But before that, i knew him, yap just knowing. Actually  (may be) many girls liked him, one of them was my buddy.

This one was the wrong way i took. Mungkin aku terlibat journey yang seharusnya tidak aku jalani. I realize, even my buddy has been having boy friend since that time till now, and God bless till lasting and she gave me permission to started dating him, but that time i thought very sorry for everything i made. Aku selalu berpikir benarkah jalan yang aku ambil? Benarkah hubungan kami ini? Me and this Mr. S (kita samarkan saja), would everything be ok?

Kadang dalam hati terdalam aku selalu berpikir bahwa aku salah, aku bersalah. apakah hubungan ini pantas berlanjut? Ini berawal dari sebuah kesalahan. Aku selalu mengutuki diriku akan hal ini. Tapi pria ini, bagaimanapun perilaku ku, ia selalu meyakinkanku kalau semua baik saja.

He ensured me that he loved me and so did i. His behave to me, all are making me melted. Dia seseorang yang penyayang, dia selalu meyakinkan aku bahwa dia mencintaiku, amat sangat.

Waktuku tiba, entah kapan cinta ini terasa begitu dalam. Semakin lama, semakin besar rasa takut kehilangan. But seemingly, we were often having fight. Im a stubborn girl, everyday i always made him angry, i always tested his love to me. And every time i did it, he passed my test. I was becoming crazier, how could this people handle me, God i fell in love again again and again with this man.

Ya im in love with him, a whole of my heart. Tetapi agaknya sekarang keadaan berbalik, dia yang mulai meragukan kecintaanku terhadapnya. He was bored with every fight i made. I realize that, i was wrong. Dan entah bagaimana ceritanya kami memutuskan untuk mengehentikan semua ini. We  broke, and ya we did it.

Everyday i regretted everything. I tried to ensure him that i love him, i need him, we can fix everything. He rejected. Oke, mungkin ini hukumannya terhadapku, fine. Katanya tidak ada jaminan bahwa aku akan berubah. Dulu kami pernah bertengkar hebat, yang menyebabkan dia pergi meninggalkanku. Dia menjauh, seolah ingin membersihkan aku dari hati dan pikirannya. Aku menyetujui itu, silahkan lakukan apa yang menurutmu baik, ingin menetralkan perasaanmu, silahkan jauhi aku, aku mengerti. Pada saat ini aku benar-benar gadis yang keras kepala dan berhati batu, aku bahkan tak pernah meyakinkannya jika aku tak ingin dia pergi.

Beberapa lama itu dia pergi dariku dan aku tak merasa kehilangan, lalu entah bagaimana benar Tuhan mengirimnya kembali padaku. Kami bersama lagi. Namun sekarang berbeda, entah mengapa aku tak ingin dia benar-benar jauh, semua kerusakan ini, aku hanya ingin membetulkannya. Dan sekali lagi katanya tak ada jaminan aku akan berubah.

Aku pun tak tau jaminan apa yang dapat ku beri. Perasaan ini hanya saja semakin dalam setiap harinya dan aku tak tau bagaimana caranya memberitahumu. Semua yang kulakukan hanya mencoba memahamimu.

Kau tak ingin bersama lagi? baiklah aku mengerti.

Kau bosan dengan tingkah lakuku? Semakin dangkal perasaanmu? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Kau hanya berpikir kau yang terskiti? baiklah kuikuti permainanmu.

Untuk setiap malam yang ku habiskan mengingat kau, untuk tangis- tangis bodoh yang ku buang karena kau? apa kau memikirkannya? yang kau pikir hanya aku tidak mencintaimu, aku keras kepala, dan aku tidak termaafkan.

Lalu kau pikir perilakumu terhadapku termaafkan? I wish I would never forgive you. But once more i tried to understand. Even we broke off, you still wanna be my friend. I accept, i just accepting it. I replay ur text, even it was short, cause i don’t want to have long conversation with you. You know, this feeling hasn’t clear enough, i just wanna make it normal.

Berkontak selayaknya teman, jangan berbagi terlalu banyak, jangan berinteraksi terlalu dalam. Aku hanya menginginkan ini, lalu kau bilang aku berlebihan?

Bagaimana kabarmu dulu yang ingin menetralkan hatimu dan berlalu meningggalkanku? Aku menyilahkanmu.  Jika sekarang aku ingin melakukan hal sama, mengapa kau anggap itu berlebihan? Setidaknya aku tak menghilang seperti kau.

Kau tak pernah tahu sedalam apa aku terluka. kau tak pernah tahu sesering apa aku menangis. Kau tak pernah tahu sedalam apa aku mencinta.

Yang kau tahu hanya hubungan ini berakhir dan kita bisa berteman akrab seperti biasa. Hati wanita sedalam samudra, dan semua air itu adalah tentang kau. Bagaimana mungkin aku mengosongkannya dalam waktu sesingkat itu… berakrab, bercengkrama, berbagi? Kau ingin menenggelamkanku kedalam perasaanku yang semua isinya tentangmu?

Im dying everyday. It’s hard to come alive. Just, please understand. Aku dan gadis-gadis lain itu berbeda. Hubungan kita beserta apa yang terjadi di dalamnya itu berbeda dengan milik mereka. Setelah apa yang terjadi, ku kira aku salah menilaimu. Ku kira kau pria lembut penuh kasih sayang, tapi kini kau tak lebih dari seorang egois.

Untuk perasaan yang pernah ada… Untuk tangis yang sempat terjadi… Untuk luka yang pernah tergores… Aku hanya ingin sembuh~

 

“Maria, come, the dinner is ready”

“Yes Mom, I’m coming”, Maria melepas kacamata yang bertengger di hidung mancungnya lalu membuat mode tidur pada laptopnya. Ia melihat ke arah buku hijau di atas tempat tidurnya. Tintanya pasti kini buram, batinnya.

Maria turun, menghampiri ibunya.

“C’mon, let’s have dinner. Dad and Van rejected my invitation”, ucap ibunya

“It’s fine mom. I have you, you have me”, ucap Maria setengah tersenyum.

“Stop crying every night, then. He must be very stupid man, leaving my Maria”, balas ibunya.

Matanya mulai berkaca, dan ingus itu entah datang dari mana tiba-tiba menyumpal hidungnya. “Yup, this this the reincarnation of Maria”, tegasnya sembari memeluk ibunya.

Advertisements